Selasa, 17 Oktober 2017

Temuan Dayung Berusia Ratusan Tahun Diminta Ditindaklanjuti

id taman dayung
Kalau betul dayung (pangayuh = bahasa daerah Banjar Kalsel) `jukung` (sampan/perahu) itu berusia ratusan tahun atau pada abad ke-14, maka perlu kita rawat,
Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Ketua Komisi IV Bidang Kesra DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) Yazidie Fauzi meminta instansi terkait segera menindaklanjuti informasi temuan sebuah dayung yang berusia ratusan tahun di Margasari Kabupaten Tapin.

"Kalau betul dayung (pangayuh = bahasa daerah Banjar Kalsel) `jukung` (sampan/perahu) itu berusia ratusan tahun atau pada abad ke-14, maka perlu kita rawat," ujarnya sebelum rapat paripurna DPRD provinsi setempat di Banjarmasin, Jumat.

Pasalnya kalau betul pangayuh itu hasil kerya atau peninggalan abad ke-14 berarti tergolong langka dan semestinya pula mendapatkan perlindungan sebagaimana peraturan perundang-undangan, lanjut mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kalsel tersebut.

Guna tetap terjaganya benda temuan bernilai sejarah serta kepurbakalaan itu, menurut dia, mungkin pemerintah daerah atau pihak berkompeten lainya bisa mengambil alih pemeliharaan dari masyarakat/penemunya.

Begitu pula masyarakat/penemu benda yang diduga bersejarah dan termasuk peninggalan purbakala itu agar mengikhlaskan pemeliharaan kepada pemerintah, lanjut wakil rakyat dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bergelar sarjana komputer itu.

Oleh sebab itu pula pihak instansi terkait benda bersejarah dan kepurbakalaan agar segera melakukan pengecekan atau penelitian untuk membuktikan kebenaran atas dugaan sebagai peninggalan abad ke-14.

"Karena sayang kalau pangayuh jukung itu benar sebagai peninggalan abad ke-14 terabaikan begitu saja," ujar wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel IV/Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) tersebut.

"Jika pangayuh jukung yang ditemukan di Margasari Tapin (sekitar 117 kilometer utara Banjarmasin) tersebut benar peninggalan abad ke-14, berarti nenek moyang kita di Kalsel juga orang pelaut atau masyarakat nelayan," lanjut laki-laki berbintang Leo itu.

Pasalnya jukung merupakan sarana masyarakat untuk mencari ikan dengan menggunakan pangayuh dalam mengarungi perairan umum, baik pada tempo dulu atau zaman bahari maupun masa kini, demikian Yazidie Fauzi.

Sebelumnya warga Margasari Tapin belum lama ini diributkan dengan penemuan sebuah pangayuh yang diduga peninggalan pada abad ke-14.

Margasari sebuah kawasan pertanian, yang penduduk setempat tidak hanya bercocok tanam padi, tetapi menambah matapencaharian mereka dengan menangkap ikan pada perairan umum yang termasuk daerah rawa monoton Rawa Muning menyatu dengan Rawa Nagara HSS.

Editor: Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga