Rantau (ANTARA) - Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), memperkuat intervensi gizi dan bantuan sosial sebagai upaya menekan angka stunting yang kini berhasil turun menjadi 13,2 persen pada 2024.
Kepala Dinas Sosial Tapin Syarifuddin di Rantau, Rabu, mengatakan intervensi dilakukan melalui berbagai program bantuan sosial dan penyuluhan gizi bagi keluarga berisiko stunting, terutama yang berasal dari kalangan masyarakat kurang mampu.
Baca juga: Tapin gandeng Briton dan Australia tingkatkan daya saing SDM
“Kami memberikan bantuan berupa telur untuk anak yang terindikasi stunting, serta bantuan sosial tunai bagi anak dan ibu hamil,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, penyuluhan melalui Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) dengan modul kesehatan, gizi, dan 1.000 hari pertama kehidupan juga terus dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran keluarga terhadap pentingnya gizi seimbang.
Syarifuddin menjelaskan Dinas Sosial memastikan penyaluran bantuan sosial berjalan tepat sasaran melalui proses verifikasi, validasi data, hingga pendampingan langsung di lapangan.
Ia menambahkan, dalam pelaksanaannya Dinas Sosial Tapin menjalin kerja sama lintas sektor dengan Dinas Kesehatan serta Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB).
“Data penerima bantuan sosial anak stunting dan ibu hamil bersumber dari Dinas Kesehatan melalui sistem EPPBGM, sedangkan kegiatan penyuluhan P2K2 dilaksanakan di 12 kecamatan bekerja sama dengan DPPKB,” jelasnya.
Baca juga: Tapin Bidik 60 Emas di Porprov Kalsel 2025
Menurut dia, tantangan yang dihadapi dalam penanganan stunting karena masih rendah kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat dan aktif mengikuti kegiatan posyandu, serta keterbatasan ekonomi keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi.
“Kesadaran hidup sehat masih perlu ditingkatkan, terutama bagi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi,” ujarnya menambahkan.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Tapin tercatat sebesar 13,2 persen, menurun signifikan dari 33,5 persen pada 2021 dan 14,4 persen pada 2023.
Pencapaian tersebut menjadikan Tapin sebagai daerah pertama di Kalimantan Selatan yang berhasil melampaui target nasional di bawah 14 persen.
Syarifuddin menyampaikan bahwa menjelang akhir 2025, Dinas Sosial menargetkan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya perilaku hidup sehat dan pencegahan dini stunting melalui edukasi berkelanjutan serta program bantuan langsung.
“Kami berharap masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kesehatan dan gizi keluarga,” kata Syarifuddin.
Baca juga: Disdukcapil Tapin perkuat transparansi lewat forum publik 2025
