Selasa, 24 Oktober 2017

Dinkes HSU "Screening" Kepada Populasi Rentan HIV/AIDs

id AIDS, HIV/AIDS, Dinkes HSU "Screening" Kepada Populasi Rentan Hiv/aids
Dinkes HSU
ilustrasi.(Antaranews Kalsel/dok.)
di HSU telah ditemukan sekitar 38 kasus HIV/AIDs, yang rata-rata diidap oleh masyarakat dengan mobilitas tinggi ke luar daerah
Amuntai, (Antaranews Kalsel) - Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, melakukan "screening" terhadap populasi yang rentan terjangkit HIV/AIDs di daerah tersebut.

Konselor atau Visit HIV/AIDs Dinas Kesehatan HSU Noor Effendy di Amuntai Senin mengatakan, melalui "screening" tersebut, diharapkan para penderita HIV/AIDs akan lebih cepat diketahui dan segera bisa mendapatkan pengobatan.

Screening adalah proses untuk mengidentifikasi penyakit-penyakit yang tidak diketahui/tidak terdeteksi dengan menggunakan berbagai test/uji yang dapat diterapkan secara tepat dalam sebuah skala yang benar.

Selain itu, juga cara untuk mengidentifikasi penyakit yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur lain, yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita.

Program tersebut, juga merupakan deteksi dini penyakit tanpa gejala atau dengan gejala tidak khas, terhadap orang- orang yang tampak sehat, tetapi mungkin menderita penyakit, yaitu orang yang mempunyai resiko tinggi terkena penyakit.

Menurut Effendy, pihaknya kini cukup gencar mengantisipasi penyebaran atau penularan HIV/AIDs di daeranya, melalui berbagai sosialisasi, terutama di lokasi-lokasi yang memang rentan terhadap penularan virus mematikan tersebut.

"Selain screening, kami juga melakukan sosialisasi kepada populasi yang rentan terhadap penyebaran virus tersebut," katanya.

Saat ini, tambah dia, pihaknya juga merangkul berbagai komunitas, terutama yang banyak bersentuhan dengan populasi yang rentan terhadap penularan virus tersebut, antara lain, dengan kelompok Trans Gender Amuntai (Teratai).

Effendy mengungkapkan, penanganan dan pencegahan penyebaran virus tersebut, perlu keterlibatan seluruh pihak terkait, termasuk dunia pendidikan, untuk memberikan edukasi dan pemahaman secara komprehensif kepada para siswa.

Selain itu juga, BKKBN, PKK dan organisasi kemasyarakatan lainnya, untuk memberikan pemahaman terkait virus tersebut.

Saat ini, tambah dia, di HSU telah ditemukan sekitar 38 kasus HIV/AIDs, yang rata-rata diidap oleh masyarakat dengan mobilitas tinggi ke luar daerah.

"Sebagian besar warga yang terkena virus tersebut adalah warga yang sering bepergian, baik itu ke Kaltim, Banjarmasin dan beberapa daerah lainnya," katanya.

Saat ini, tambah dia, beberapa organisasi kemasyarakat, juga mulai aktif untuk terlibat dalam pencegahan virus tersebut, antara lain dengan dibentuknya kader remaja peduli HIV di Kecamatan Paminggir dan beberapa kegiatan lainnya.

Editor: Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga