Bahkan, Sahrujani memimpin langsung aksi bersih-bersih.

“Kita jadikan ini awal, pilot project untuk HSU Bangkit,” kata Sahrujani di sela kegiatan. 

Sahrujani pun menyerukan seluruh pintu air harus dibersihkan, jika perlu Pemkab HSU siap melakukan intervensi.

Namun bukan lumpur dan gulma saja yang harus dibersihkan. Tantangan sebenarnya ada pada pola pikir masyarakat karena selama bertahun-tahun, saat Polder tidak lagi berfungsi optimal, warga terbiasa hidup tanpanya.


Misi besar
 
Mengubah kebiasaan bukan hal mudah, tapi perubahan sedang dirintis, perlahan tapi pasti.

Harapan mulai tumbuh, pada Musrenbang Kecamatan, Polder Alabio kembali masuk dalam visi besar bertajuk Jadikan Hulu Sungai Utara sebagai kawasan agrominapolitan, penopang logistik Kalimantan Selatan.

Bukan sekadar membangkitkan kembali fungsi irigasi, tapi membangun sinergi antara air, lahan, teknologi, dan masyarakat.

Baca juga: Ketua DPRD Kalsel : Perlu optimalkan polder Alabio HSU

Kini, Polder Alabio berdiri di persimpangan sejarah, bisa saja tenggelam dalam sejarah sebagai peninggalan kolonial yang dilupakan, atau bangkit kembali sebagai simbol kemajuan dan keberlanjutan.
 
Barangkali suara mesin pompa akan kembali berdengung, menyalurkan air, harapan, dan kehidupan. Suara yang dulu pernah hidupkan ribuan hektare lahan mungkin akan kembali terdengar. 

Bukan hanya alat berat atau dana besar yang utamanya dibutuhkan, tapi keberanian untuk percaya lagi. Rawa ini bisa kembali hidup, warisan itu masih bisa bernapas. 

Polder Alabio, seperti masyarakat yang tumbuh di sekitarnya, hanya menunggu satu hal, yakni kesempatan sebagai simbol harapan baru warga Hulu Sungai Utara.

Baca juga: Fungsi polder alabio kalsel belum maksimal

 
Wakil Bupati Hulu Sungai Utara (HSU) Provinsi Kalimantan Selatan Hero Setiawan (kiri) meninjau lokasi Polder Alabio di Desa Kalompang Kecamatan Babirik, Selasa (15/4/2025). (ANTARA/HO-Pemkab HSU)


 

Editor : Taufik Ridwan

COPYRIGHT © ANTARA 2026