Selasa, 24 Oktober 2017

KPA Banjarbaru Tawarkan Tes HIV/AIDS Sukarela

id HIV, AIDS, KPA Banjarbaru Tawarkan Tes Hiv/Aids Sukarela
KPA Banjarbaru Tawarkan Tes HIV/AIDS Sukarela
ilustrasi. (Antaranews Kalsel/net.)
Semakin cepat diketahui semakin baik sehingga penderita bisa berobat secara rutin agar penderitaan berkurang dan tidak menularkan kepada orang lain terutama pasangan,
Banjarbaru, (Antaranews Kalsel) - Komisi Penanggulangan AIDS Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menawarkan tes HIV/AIDS secara sukarela kepada siapa saja , terutama secara berkelompok.

"Kami menawarkan tes HIV/AIDS sukarela kepada berbagai pihak baik terutama secara berkelompok," ujar Sekretaris KPA Banjarbaru Edi Sampana di Banjarbaru, Sabtu.

Ia mengatakan, berbagai pihak yang ditawarkan mengikuti tes sukarela baik masyarakat umum, anggota organisasi, aparatur pemerintah, TNI,Polri maupun pekerja swasta.

Dijelaskan, tes yang dikenal dengan sebutan "voluntary counseling and testing" (VCT) merupakan tes HIV dan AIDS yang dilakukan secara sukarela kepada orang-orang yang bersedia.

"Tahapan tes VCT yakni pemberian informasi tentang HIV dan AIDS, cara penularan, cara pencegahannya dan periode jendela dilanjutkan penilaian risiko klinis," ungkapnya.

Selanjutnya, jika orang bersangkutan bersedia mereka akan mengikuti tes HIV berupa pengambilan darah melalui ujung jari yang diperiksa dengan cairan Reagan dan hasilnya cepat diketahui.

"Hasil pemeriksaan bisa diketahui setengah jam hingga satu jam. Apapun hasilnya sangat dirahasiakan dan hanya konselor serta orang yang bersangkutan mengetahuinya," ucap dia.

Dikatakan, tujuan tes dengan sasaran seluruh lapisan masyarakat dan profesi bertujuan menemukan penderita HIV/AIDS sehingga bisa diobati sekaligus mencegah penularan kepada orang lain.

"Semakin cepat diketahui semakin baik sehingga penderita bisa berobat secara rutin agar penderitaan berkurang dan tidak menularkan kepada orang lain terutama pasangan," ujarnya.

Ditambahkan, jumlah penderita HIV/AIDS secara kumulatif di Banjarbaru sejak 2005 hingga 2016 sebanyak 193 orang, tetapi diperkirakan penderitanya lebih dari angka tersebut.

"Penyakit HIV/AIDS seperti fenomena gunung es. Hanya sedikit yang terlihat di puncak, padahal di bawahnya banyak, dan kami berupaya menemukan penderita yang banyak itu," katanya.

Editor: Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga