Oleh Syamsuddin Hasan

Banjarmasin, (Antaranews.Kalsel) - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan pada Maret 2013, Kota Banjarmasin mengalami inflasi sebesar 0,19 persen.

Inflasi Kota Banjarmasin terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukan oleh naiknya indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 0,19 persen, ungkap Kepala Bidang Produksi Statistik BPS Kalsel Zulkifli, Senin.

Selain itu, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik sebesar 0,35 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik sebesar 0,61 persen.

Kemudian kelompok kesehatan naik sebesar 0,03 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan naik sebesar 0,05 persen, lanjutnya dalam jumpa pers di Kantor BPS Kalsel, Jalan KS Tubun (Pekauman) Banjarmasin.

Sementara kelompok sandang mengalami deflasi sebesar 1,03 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga tidak mengalami perubahan indeks, tambahnya mewakili Kepala BPS Kalsel Iskandar Zulkarnain.

Ia mengungkapkan, sepuluh komoditas utama yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi selama Maret 2013, ikan gabus, bawang merah, bawang putih, sewa rumah, sop, kol putih atau kubis, roti manis, bumbu masakan jadi, tomat sayur dan bensin.

Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menahan terjadinya inflasi, daging ayam ras, telur ayam ras, emas perhiasan, ikan patin, ikan bawal, ikan kembung, papaya, semangka, ikan nila dan angkutan udara.

Laju inflasi di "kota seribu sungai" Banjarmasin sampai dengan Maret 2013, sudah mencapai 1,76 persen, sedangkan dilihat dari inflasi "year on year" (Maret 2012 terhadap Maret 2013), secara umum Banjarmasin mengalami inflasi sebesar 5,25 persen.

Jika dilihat dari kelompok pengeluarannya, inflasi year on year (yoy) tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan yaitu 8,30 persen dan terendah kelompok sandang dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuanganyang masing-masing mengalami inflasi 0,83 persen.

Menurut komponennya, barang-barang yang harganya dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah (administered goods inflation) secara umum mengalami inflasi 0,19 persen.

Sementara harga yang bergejolak (volatile goods inflation) inflasi sebesar 0,28 persen dan komponen inti (core inflation) mengalami inflasi sebesar 0,14 persen.

Kelompok bahan makanan pada Maret 2013 mengalami Inflasi 0,19 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 180,05 pada Februari 2013 menjadi 180,39 pada bulan Maret 2013.

Dari 66 kota di Indonesia, tercatat 58 kota mengalami inflasi, sedangkan delapan kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Kota Sorong 1,73 persen dan terendah di Kota Pekanbaru 0,04 persen.

Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Jayapura sebesar 2,63 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Dumai sebesar 0,01 Persen, demikian Zulkifli. 


: Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026