Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kalimantan Selatan (DPMPTSP Kalsel) menyatakan realisasi investasi hingga semester I atau triwulan II periode 2025 telah mencapai Rp16 triliun.
Kepala DPMPTSP Kalsel Endri di Banjarmasin, Senin, mengatakan tinggal mengejar Rp4 triliun untuk mencapai target Rp20 triliun yang ditetapkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-202), termasuk target pemerintah pusat sebesar Rp30 triliun.
Baca juga: DPMPTSP Kalsel diharapkan lebih "buka pintu"
“Insya Allah sampai akhir tahun tercapai karena masih ada investor yang siap menanamkan modal di provinsi kita,” ujar Endri usai rapat bersama Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalsel.
Menurut dia, arah investasi Kalsel ke depan difokuskan pada industrialisasi sebagai langkah mengurangi ketergantungan terhadap usaha pertambangan batu bara.
“Selama ini investasi di Kalsel banyak di bidang pertambangan batu bara, tapi ke depan kita arahkan untuk industrialisasi,” katanya.
Endri belum merinci nama investor yang akan masuk dan mempersilakan wartawan memperoleh informasi detail di Kantor DPMPTSP Kalsel, Kota Banjarbaru.
Rapat bersama Komisi II DPRD Kalsel tersebut membahas evaluasi pelaksanaan program 2025 dan rencana program kerja Tahun Anggaran 2026.
Sebelumnya, Endri menyatakan Pemprov Kalsel berupaya meningkatkan investasi yang masuk selain sektor pertambangan, yakni sektor pertanian, perkebunan dan perikanan pada 2025.
Baca juga: Pemprov Kalsel kumpulkan ahli gizi edukasi anak soal pola makan seimbang
Endri menyampaikan Provinsi Kalsel ingin memaksimalkan sektor lain dengan hilirisasi dan industrialisasi pada sektor pertanian, perkebunan dan perikanan.
Menurut dia, selama ini hanya berorientasi kepada lokal, belum berorientasi pada luar daerah maupun provinsi, apalagi berorientasi pada ekspor.
"Tentunya kita lihat ini banyak komoditas yang memang sangat bisa dikembangkan yang nantinya bisa dijadikan sebagai industrialisasi produk olahan seperti di bidang pertanian, perkebunan dan perikanan," ucapnya.
Dia mencontohkan Kabupaten Hulu Sungai Selatan memiliki seperti kayu manis yang sebenarnya memiliki prospek yang sangat bagus, permintaan akan ekspor sangat tinggi tetapi masih belum dikelola dengan baik karena masih bergantung kepada alam atau tradisional.
"Seandainya ini bisa dikembangkan yang sifatnya olahan dari kayu manis kemudian diolah jadi bubuk sehingga nilai ekonomisnya bisa tinggi dan permintaan ekspor sangat banyak. Itu dampaknya sangat besar nanti. Hal-hal itu yang memang kita ingin kembangkan ke depan," ujarnya.
Baca juga: Pemprov Kalsel upayakan peningkatan investasi selain di pertambangan
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2025
Kepala DPMPTSP Kalsel Endri di Banjarmasin, Senin, mengatakan tinggal mengejar Rp4 triliun untuk mencapai target Rp20 triliun yang ditetapkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-202), termasuk target pemerintah pusat sebesar Rp30 triliun.
Baca juga: DPMPTSP Kalsel diharapkan lebih "buka pintu"
“Insya Allah sampai akhir tahun tercapai karena masih ada investor yang siap menanamkan modal di provinsi kita,” ujar Endri usai rapat bersama Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalsel.
Menurut dia, arah investasi Kalsel ke depan difokuskan pada industrialisasi sebagai langkah mengurangi ketergantungan terhadap usaha pertambangan batu bara.
“Selama ini investasi di Kalsel banyak di bidang pertambangan batu bara, tapi ke depan kita arahkan untuk industrialisasi,” katanya.
Endri belum merinci nama investor yang akan masuk dan mempersilakan wartawan memperoleh informasi detail di Kantor DPMPTSP Kalsel, Kota Banjarbaru.
Rapat bersama Komisi II DPRD Kalsel tersebut membahas evaluasi pelaksanaan program 2025 dan rencana program kerja Tahun Anggaran 2026.
Sebelumnya, Endri menyatakan Pemprov Kalsel berupaya meningkatkan investasi yang masuk selain sektor pertambangan, yakni sektor pertanian, perkebunan dan perikanan pada 2025.
Baca juga: Pemprov Kalsel kumpulkan ahli gizi edukasi anak soal pola makan seimbang
Endri menyampaikan Provinsi Kalsel ingin memaksimalkan sektor lain dengan hilirisasi dan industrialisasi pada sektor pertanian, perkebunan dan perikanan.
Menurut dia, selama ini hanya berorientasi kepada lokal, belum berorientasi pada luar daerah maupun provinsi, apalagi berorientasi pada ekspor.
"Tentunya kita lihat ini banyak komoditas yang memang sangat bisa dikembangkan yang nantinya bisa dijadikan sebagai industrialisasi produk olahan seperti di bidang pertanian, perkebunan dan perikanan," ucapnya.
Dia mencontohkan Kabupaten Hulu Sungai Selatan memiliki seperti kayu manis yang sebenarnya memiliki prospek yang sangat bagus, permintaan akan ekspor sangat tinggi tetapi masih belum dikelola dengan baik karena masih bergantung kepada alam atau tradisional.
"Seandainya ini bisa dikembangkan yang sifatnya olahan dari kayu manis kemudian diolah jadi bubuk sehingga nilai ekonomisnya bisa tinggi dan permintaan ekspor sangat banyak. Itu dampaknya sangat besar nanti. Hal-hal itu yang memang kita ingin kembangkan ke depan," ujarnya.
Baca juga: Pemprov Kalsel upayakan peningkatan investasi selain di pertambangan
Editor : Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2025