Harga cabai rawit hiyung di sentral tanam Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, naik akibat cuaca buruk dan meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM).

"Harga naik dari Rp60 ribu ke Rp70 ribu per kg di tingkat petani. Kalau keluar daerah Tapin bisa mencapai harga Rp100 ribu tergantung jarak distribusi. Sekarang BBM naik, harga angkutan meningkat," ujar Ketua Kelompok Tani Karya Baru Junaidi kepada ANTARA di Banjarmasin, Rabu.

Cabai rawit hiyung yang dikenal memiliki rasa 17 kali lebih pedas dari cabai rawit biasa ini diminati oleh masyarakat di beberapa daerah, misalnya di Kalimantan Tengah (Kalteng).

"Kalteng banyak permintaan, termasuk daerah lainnya," ujarnya.

Besarnya permintaan itu, tidak diiringi oleh cuaca yang bagus, sehingga kuantitas produksi panen berkurang dari perhitungan semula.

"Dari 148 hektar cuma 70 persen yang bisa dipanen. Musim hujan saat ini mempengaruhi media tanam," ujarnya.

Diperkirakan sampai habis musim panen tahun ini, harga cabai rawit hiyung akan tetap naik mengingat kondisi cuaca dan naiknya harga BBM.

"Musim panen tinggal 3 bulan. Diperkirakan capaian panen sampai 50 ton se-Desa Hiyung," ujarnya.

Musim tanam berikutnya, kata dia, diperkirakan dilakukan pada Maret-Mei 2023 dan musim panen di kisaran Juni-Juli.

Namun demikian, pihak Rumah Produksi Cabai Rawit Hiyung, sudah menyiapkan abon cabai rawit dan sambal basah varian rasa, untuk memenuhi kebutuhan pasar akan rasa pedas.

Selama jengka waktu antara musim panen dan tanam, kata dia, produk turunan hasil panen banyak tersedia.

"Harga Rp20 ribu, apabila mau pesan bisa hubungi 081959699889. Stok banyak bisa kita kirim," ujarnya.

Produk turunan hasil pertanian cabai rawit hiyung (ANTARA/HO-Ketua Kelompok Tani Karya Baru)

Pewarta: Muhammad Fauzi Fadilah

Editor : Mahdani


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2022