Dolar AS merosot ke posisi terendah satu minggu terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), ketika saham mencapai rekor tertinggi dan imbal hasil obligasi AS bertahan di bawah tertinggi baru-baru ini, meskipun analis mengatakan likuiditas rendah karena banyak bagian dunia libur untuk Paskah.

Dolar telah rebound tahun ini seiring dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS karena investor bertaruh pada pertumbuhan ekonomi AS yang lebih cepat dan inflasi yang lebih tinggi ketika ekonomi dibuka kembali setelah penutupan bisnis terkait COVID-19.

Tetapi penurunan dolar pada Senin (5/4/2021) bahkan terjadi setelah data pekerjaan yang kuat pada Jumat (2/4/2021) dapat menunjukkan bahwa sebagian besar prospek bullish telah diperkirakan, setidaknya untuk jangka pendek.

Baca juga: Dolar menguat terangkat kenaikan imbal obligasi pemerintah AS

“Fakta bahwa kami tidak menguji tertinggi baru (dalam imbal hasil) tepat setelah data penggajian (payrolls) non-pertanian pada Jumat (2/4/2021) menunjukkan bahwa mungkin beberapa dari optimisme ekonomi AS ini sudah diperkirakan,” kata Vassili Serebriakov, ahli strategi valas di UBS di New York.

Ia mengatakan "seseorang harus sedikit berhati-hati dalam menafsirkan gerakan ini karena sebagian besar dunia masih tutup untuk liburan (Paskah)".

Greenback telah menguat pada Jumat (2/4/2021) setelah data menunjukkan bahwa ekonomi AS menciptakan lapangan kerja paling banyak dalam tujuh bulan pada Maret karena lebih banyak orang Amerika yang divaksinasi dan pemerintah membagikan uang bantuan pandemi tambahan, menandai dimulainya apa yang bisa menjadi kinerja ekonomi terkuat tahun ini dalam hampir empat dekade.

Dolar melemah 0,40 persen terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya pada Senin (5/4/2021) menjadi 92,59. Mata uang AS telah jatuh dari 93,44 pada Rabu (31/3/2021), yang merupakan tertinggi sejak 5 November.

Euro menguat 0,50 persen menjadi 1,1811 dolar AS. Sterling naik 0,57persen menjadi 1,3903 dolar AS. Dolar Australia, yang biasanya naik saat selera risiko kuat, naik 0,78 persen menjadi 0,7653 dolar AS.

Data pada Senin (5/4/2021) menunjukkan bahwa ukuran aktivitas industri jasa AS melonjak ke rekor tertinggi pada Maret di tengah pertumbuhan yang kuat dalam pesanan baru.

Greenback umumnya meningkat ketika penguatan saham selama beberapa bulan terakhir. Investor sekarang mengamati untuk melihat apakah hubungan itu berlanjut karena ini dapat mengindikasikan pergeseran dalam bagaimana mata uang merespons untuk meningkatkan selera risiko.

Baca juga: Investor menghindari aset berisiko, dolar sentuh tertinggi empat bulan

"Hal tersulit untuk pasar saat ini adalah mencari tahu apa sensitivitas dolar terhadap berita ekonomi AS yang baik," kata Erik Nelson, ahli strategi makro di Wells Fargo di New York.

"Ini adalah pertanyaan besar karena jika kita memasuki fase di mana dolar tidak lagi menjadi tempat berlindung yang aman dan lebih merupakan 'risiko' pada mata uang, itu adalah perubahan rezim yang besar," kata Nelson.

Investor juga fokus pada rencana infrastruktur yang diusulkan oleh Presiden AS Joe Biden, yang akan melibatkan peningkatan pajak perusahaan untuk membayar pengeluaran baru.

Biden akan bersedia untuk mendorong rencana infrastruktur senilai 2 triliun dolar AS tanpa dukungan dari anggota parlemen Republik jika dia tidak dapat mencapai kesepakatan bipartisan, Menteri Energi Jennifer Granholm mengatakan pada Minggu (4/4/2021).

Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan pada Senin (5/4/2021) bahwa dia sedang bekerja bersama negara-negara G20 untuk menyetujui tarif pajak minimum perusahaan global guna mengakhiri "perlombaan 30 tahun pada tarif pajak perusahaan yang rendah."

Kapitalisasi pasar mata uang kripto mencapai puncak sepanjang masa dua triliun dolar AS pada Senin (5/4/2021), menurut data dan pelacak pasar CoinGecko dan Blockfolio, karena kenaikan selama beberapa bulan terakhir menarik permintaan dari investor institusional dan ritel.

Bitcoin terakhir naik 1,16 persen di 58.888 dolar AS.

Pewarta: Apep Suhendar

Editor : Imam Hanafi


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2021