Oleh Imam Hanafi

Kotabaru,  (Antaranews Kalsel) - PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO), di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, hingga saat ini belum bisa melakukan ekspor konsentrat bijih besi yang sudah melalui pemurnian tahap pertama.

Manajer Operasional PT SILO, Henry Yulianto, di Kotabaru, Jumat mengatakan, sampai hari ini, PT SILO belum mendapatkan kuota ekspor konsentrat bijih besi, dari pemerintah.

"Padahal, mesin pemurnian tahap pertama PT SILO yang mulai dioperasikan awal Februari hingga saat ini sudah berproduksi sekitar 300 ribu metrik ton," katanya.

Meski belum bisa ekspor, SILO tetap melakukan pemurnian tahap pertama terhadap 700 ribu metrik ton bijih besi hasil pertambangan.

Henry menambahkan, pemurnian tahap pertama bijih besi yang berupa konsentrat tersebut sudah meningkat diatas 51 persen, syarat minimal yang ditetapkan pemerintah.

Menurut informasi, salah satu penyebab SILO belum mendapatkan kuota ekspor karena masih menunggu Petunjuk Teknis (Juknis), sebagai penjabaran dari peraturan pemerintah yang mengatur pelarangan ekspor hasil tambanga berupa mineral, serta Undang-undang No.4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara yang diberlakukan per 12 Januari 2014.

Sejak 12 Januari 2014, PT SILO tidak melakukan ekspor bijih besi maupun konsentrat yang sudah melalui permunian tahap pertama.

"Mudah-mudahan tidak lama lagi, Juknis tersebut segera terbit agar SILO mendapatkan kuota ekspor," terangnya.

Sebelumnya, Hanry mengatakan, pabrik pemurnian tahap pertama dengan nilai investasi 60 juta US dollar, Minggu (9/2), mulai dioperasikan untuk pemanasan.

Dengan dimulainya beroperasi mesin pemurnian tahap satu, maka SILO tidak akan lagi menjual hasil tambangnya dalam bentuk mineral, tetapi sudah melalui pemurnian sesuai yang diamanatkan dalam Undang-undang No.4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara yang diberlakukan per 12 Januari 2014.

Apabila bijih besi dari mulut tambang kadarnya 40 persen-45 persen, setelah dilakukan tahap pertama sudah naik 10 persen menjadi 44 persen-50 persen lebih.

Hanry mengemukakan, di dalam operasinya mesin pemurnian tahap satu, mesin memanaskan kilang berupa batu tahan api yang terbuat dari baja dengan memasokkan panas 400 drajat celcius.

Untuk sementara, pemanasan menggunakan bahan bakar kayu, selanjutnya pemanasan akan menggunakan bahan bakar batubara yang panasnya disemburkan hingga mencapai 800 drajat.

Pewarta:

Editor : Asmuni Kadri


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2014