Oleh Syamsuddin Hasan

Banjarmasin,  (Antaranews Kalsel) - Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan kini membangun jalan lingkar guna mengatasi kemacetan lalu lintas dalam kota Barabai.


"Insya Allah jalan lingkar sepanjang sekitar 8,5 kilometer itu selesai tahun 2014," ujar Bupati Hulu Sungai Tengah (HST) H Harun Nurasid menjawab Antara Kalsel dari Barabai sekitar 165 km utara Banjarmasin, Rabu.

Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur itu menerangkan, pembangunan jalan lingkar tersebut pembiayaannya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara menggunakan sistem multy years (tahun jamak).

Pasalnya jalan lingkar, bagian ruas jalan trans Kalimantan poros utara, yang menghubungkan Kalsel dengan Kaltim, lanjut bupati satu-satunya saat ini yang menyandang gelar doktor di provinsi yang terdiri 13 kabupaten/kota tersebut.

Ia menerangkan, latar belakang pemikiran pembangunan jalan lingkar tersebut, karena belakangan ini, mulai terjadi kemacetan lalu lintas dalam "kota apam" Barabai, ibu kota HST.

"Apalagi kalau ada kegiatan di Stadion Mandingin, kemacetan lalu lintas dalam kota Barabai yang oleh Presiden RI pertama Soekarno dijuluki Bandung Kalimantan itu, tidak bisa dihindari," ungkapnya.

Oleh sebab itu, dengan keberadaan jalan lingkar tersebut semua angkutan berat, termasuk bis antar kota antar provinsi (AKAP) tidak lagi lewat dalam kota Barabai, lanjutnya.

Pembangunan jalan lingkar Bawan - Kapar, guna mengurangi kemacetan lalu lintas dalam kota Barabai itu, diperkirakan menggunakan anggaran tak kurang dari Rp20 miliar, demikian Harun Nurasid.

"Bumi Murakata" HST merupakan daerah transit bagi mereka yang mau bepergian ke Kaltim maupun kota-kota kabupaten di pedalaman Kalimantan Tengah atau daerah hulu Sungai Barito.

Murakata sebagai motto daerah HST, merupakan akronim dari kata Musyawarah, rakat mufakat dan seia-sekata, yang pengertiannya selalu menjunjung kebersamaan atau kegotong royongan dalam membangun daerah dan masyarakat tersebut.

Sedangkan kota-kota di hulu sungai terlebar se-Indonesia itu, Tamiang Layang, ibu kota Kabupaten Barito Timur (Bartim), Buntok, ibu kota Kabupaten Barito Selatan (Barsel).

Kemudian Muara Teweh, ibu kota Kabupaten Barito Utara (Barut) dan terakhir atau paling udik sungai tersebut, Puruk Cahu, ibu kota Kabupaten Murung Raya (Mura).

  Kota-kota di hulu tersebut sudah ada sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, karena di alur sungai itu atau tepatnya di wilayah Barut terdapat puing kapal Belanda yang tenggelam saat berperang dengan pengikut Pangeran Antasari (Pahlawan Nasional).     

Pewarta:

Editor : Asmuni Kadri


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2013