Berita Terkait
Dalam upaya pengembangan potensi tanaman gaharu, pemerintah Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, melakukan terobosan membudi daya tanaman tersebut dengan sistem wana tani.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) setempat, Akhmad Effendie di Paringin, ibu kota Balangan, Kamis, mengatakan wana tani adalah sistem pertanaman dengan mencampurkan dua jenis atau lebih tanaman dalam satu areal lahan tanam.

"Wana tani adalah pertanaman campuran untuk dua jenis tanaman budi daya yang sama seperti jagung dan kedelai, tetapi dalam hal ini kita melakukannya untuk tanaman karet dan gaharu," ujarnya.

Upaya tersebut dilakukan seiring dengan meningkatnya minat dan pemahaman masyarakat setempat terhadap pengembangan dan budi daya tanaman gaharu.

Ia mengatakan, sejak 2005 lalu pemerintah daerah setempat mulai melakukan upaya pengembangan budi daya gaharu pada lahan seluas 25 hektar.

"Saat itu kita telah melakukan upaya pengembangan gaharu melalui penanaman 5.000 bibit demplot yang dilanjutkan pada 2010 dengan penanaman 400 batang pohon pada lahan seluas 25 hektar," katanya.

Upaya pengembangan dan budi daya gaharu terus dilakukan hingga pada 2011 lalu mulai diluncurkan program hutan rakyat yang berhasil melakukan penanaman gaharu sebanyak 25.000 bibit dilahan seluas 250 hektar.

Ia menambahkan, 2012 ini melalui sistem wana tani yang diterapkan telah berhasil ditanam sebanyak 10.000 bibit tanaman gaharu di lahan perkebunan karet milik masyarakat.

"Hingga saat ini focus utama kita masih pada pengembangan dan budi daya serta ketersediaannya, belum sampai tahap produksi," tambahnya.

Meski begitu, pemerintah daerah mulai memikirkan langkah-langkah penanganan masalah produksi dengan melakukan koordinasi bersama Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kehutanan dan Perkebunan Bogor.

Koordinasi tersebut meliputi masalah teknis penanaman, pemeliharaan hingga produksi sehingga kedepannya budi daya gaharu yang diusahakan masyarakat dapat bernilai secara ekonomis untuk peningkatan kesejahteraan dan perekonomian.

Editor: Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar