Kamis, 21 September 2017

Abdullah Sihamkari Pejuang Pramuka Yang Hampir Dilupakan

id tokoh pramuka
Abdullah Sihamkari Pejuang Pramuka Yang Hampir Dilupakan
. (Antaranews Kalsel/M Taufik Rahman)
Sampai saat ini tidak pernah ada sedikitpun Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Provinsi Kalsel memberikan penghargaan namun justru pernah ada pemberian The Achievment Award dari Kwarcab Pramuka HSU...
Barabai, (Antaranews Kalsel) - Drs H Abdullah Sihamkari merupakan tokoh yang sangat penting dalam perkembangan Pramuka Khususnya Kalimantan Selatan (Kalsel) karena beliaulah yang menciptakan lencana Daerah Kalsel yang sekarang di pakai oleh seluruh anak-anak pramuka di bagian lengan baju sebelah kanan sebagai identitas asal gugus depan daerah.

Saat ditemui di kediamannya Selasa (16/8) di Kampung Melayu Kelurahan Barabai Timur Nomor26, RT04, RW02 Kecamatan Barabai kondisi beliau menggunakan kursi roda karena lumpuh sejak tiga tahun yang lalu namun masih bugar dan dengan semangat bercerita kiprah Kepramukaan yang Dia perjuangkan di Kalsel.

"Sesuai dengan Surat Keputusan Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Kalsel No.KEP.-04/DXIII/8/67 yang ditanda tangani Mastur Anang tertanggal 15 Agustus 1967 karya saya melukis lambang lencana Daerah Gerakan Pramuka Kalsel menjadi juara pertama," katanya.

karya tersebut, tambah dia,  mengalahkan 66 peserta dari berbagai Kabupaten yang juga mengikuti sayembara yang dilaksanakan kala itu.

Dengan  tangan sedikit gemetar, ia  mengisahkan bahwa dalam sayembara itu dia mewakili Kwartir Cabang Pramuka HST yang membawa tiga buah lukisan yang bermotif Gasing, angka delapan dan bentuk perisai yang akhirnya terpilih menjadi terbaik serta dipakai hingga sekarang.

Setiap goresan dan warna pada lambang lencana Kalsel Pramuka itu mempunyai filosofi dan makna sangat mendalam yang kesimpulannya adalah pendidikan dan latihan kepramukaan Kalsel.

Lambang tersebut, juga bermakna memupuk semangat waja sampai kaputing mengabdi kepada negara, berketerampilan dan bersahaja serta berbahagia bagi orang lain atau masyarakat yang juga bagi dirinya sendiri serta siap memegang tongkat estafet dari orang tua.

Pensiunan Kepala Sekolah di MTsN Batu Benawa tahun 1999 itu juga menjelaskan bahwa Dia menciptakan lencana itu sewaktu masih menjabat sebagai Kepala Sekolah di MTSN Barabai tahun 1967 yang kebetulan juga sebagai Pengurus Kwarcab Pramuka HST Andalan Urusan Seni dan Budaya.

"Sampai saat ini tidak pernah ada sedikitpun pemerintah daerah maupun  Provinsi Kalsel memberikan penghargaan namun justru pernah ada pemberian The Achievment Award dari Kwarcab Pramuka HSU tahun 2013 yang lalu namun kita tidak pernah berharap itu yang penting menurut saya terus berkarya untuk Banua dan memberikan yang terbaik," katanya.

Mantan Aktivis HMI dan Ketua Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (Hipprada) Kalsel tahun 80an ini juga sudah ditinggalkan oleh istrinya Galuh Halimah sejak 11 tahun yang lalu yang sekarang mempunyai dua orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan yang semuanya sudah berkeluarga dan mempunyai 11 cucu.

"Walaupun kondisi saya sudah seperti ini namun saya tetap menyimak perkembangan Pramuka sekarang yang semangatnya sudah berkurang terlebih pada kepengrusan Pramuka yang sudah dilibatkan ke arah kepentingan politik sangat berbeda saat kita berjuang bagaimana mengembangkan pramuka ini benar-benar untuk melatih kecakapan diri, pendidikan dan keterampilan," katanya.

Saat ulang Tahun ke-78 yang lahir pada 15 Agustus 1939 Dia berharap dalam momentum hari Pramuka dan HUT RI ke-72 ini agar para pemuda dan anak-anak Pramuka menghargai jasa-jasa para pahalawan dan terus belajar kreatif serta berkarya guna mengharumkan nama baik Daerah.

Salah satu anak beliau Fitrahil Wati Lanupisa juga menyampaikan berbagai perawatan dari Dokter hingga di urut sudah dilakukan untuk mengobati kelumpuhan beliau namun belum bisa sembuh yang kemungkinan juga penyakit yang memang umur sudah tua namun secara fisik tubuh beliau tidak punya penyakit apa-apa masih sehat dan semangat hidup yang luar biasa.

"Penyebabnya karena waktu beliau masih aktif ngajar dulu pernah ditabrak mobil hingga kaki beliau cidera namun hanya dilakukan dengan pengobatan biasa secara tradisonal tidak di bawa ke dokter walaupun waktu itu sembuh namun ternyata di usia tua dampak cidera itu kembali menyerang beliau hingga menyebabkan tidak bisa lagi berjalan dan hanya bisa menggunakan kursi roda," katanya.

Editor: Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga