Senin, 24 Juli 2017

IIPC: Investor Parawisata Inggris Minati Indonesia

id Minat investor asal Britania Raya, Hotel Hyatt Regency The Churchill London, Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) London, Proyek Pariwisata
IIPC: Investor Parawisata Inggris Minati Indonesia
. (Antaranews Kalsel/Korpri - Korpri.id)
London, (Antaranews Kalsel) - Minat investor asal Britania Raya  terlibat dalam proyek-proyek pariwisata Indonesia besar ditandai dengan hadirnya lebih dari 50 pebisnis yang bergerak di sektor pariwisata dalam forum bisnis di Hotel Hyatt Regency The Churchill London, Selasa (11/7).

"Bisnis forum dikemas dalam bentuk seminar dan one-on-one meetings digelar Kantor perwakilan Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) di London dikenal dengan  nama Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) London bekerja sama dengan Kementrian Pariwisata dan KBRI London," kata

Communications and External Affairs IIPC Aditya Maulana Noverdi di London, Selasa.

Forum bisnis tersebut bertema "Transforming Indonesia's Tourism Industry" atau Transformasi Industri Pariwisata Indonesia.

Penyelenggaraan forum bisnis yang didukung United Kingdom-ASEAN Business Council (UKABC), Oxford Business Group dan European Union Indonesia Business Networks (EIBN diharapkan menarik minat investor luar negeri ke Indonesia, utamanya investor potensial dari Britania Raya.

Sepuluh destinasi "Bali Baru" menjadi proyek-proyek primadona yang dikedepankan pada kesempatan itu dengan fokus pada proyek Pariwisata Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung dan Danau Toba.

Direktur IIPC London Nurul Ichwan mengatakan pemilihan dua proyek pariwisata tersebut karena keduanya telah siap  dijajakan kepada investor potensial.

Dilihat dari berbagai aspek, Proyek Pariwisata KEK Tanjung Lesung dan Danau Toba sangat siap ditawarkan kepada investor di Inggris Raya. "Kendati demikian, bukan berarti delapan proyek lainnya dari 10 Destinasi Pariwisata Bali Baru, tidak atau belum siap untuk dijajaki," ujar Nurul Ichwan.

Direktur Eksekutif UKABC Ross Hunter mengatakan potensi pariwisata Indonesia sangat besar dan pebisnis asal Inggris Raya tertarik untuk berkerja sama dengan Pemerintah Indonesia serta kalangan bisnis di Tanah Air.

Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI London Vitto Tahar mengatakan

Pemerintah Indonesia mendorong pengembangan sektor pariwisata. Dibandingkan tahun 2016, Indonesia naik delapan peringkat pada Indeks Daya Saing Travel & Tourism (T&T). Kampanye "Wonderful Indonesia" secara peringkat juga lebih baik dibandingkan dengan kampanye sejenis dari negara tetangga.

Secara spesifik, Bali menjadi tujuan pariwisata terbaik versi situs TripAdvisor, mengalahkan kota besar seperti London, Paris, Roma dan New York.

Pada tahun 2016, sektor pariwisata memberikan kontribusi sebanyak 11 persen kepada PDB dengan kedatangan 10 juta wisatawan asing yang juga menghasilkan pertukaran mata uang senilai 12,8 miliar dolar AS.

Pariwisata mampu menciptakan lapangan kerja untuk lebih dari 11 juta orang, menempatkan Indonesia di dalam 50 besar World Economic Forum (WEF) Travel & Tourism Competitiveness Index.

Sementara itu, dari data internal BKPM, pada kurun waktu 2011-2016, investasi dari perusahaan-perusahaan Inggris Raya yang secara spesifik melakukan investasi pada jenis usaha hotel dan restoran saja bisa menciptakan lebih dari 4.000 lapangan pekerjaan di 83 proyek dengan nilai investasi sekitar 36 juta dolar Amerika Serikat.

Jumlah wisatawan  Inggris Raya berwisata ke Indonesia besar   dibanding wisatawan Eropa lainnya. Tahun 2016, dari data BPS tercatat sekitar 328.000, sementara Perancis  di urutan kedua dengan sekitar 250.000 dan Jerman ketiga dengan jumlah sekitar 231.000 orang.

Pembicara lainnya dalam seminar itu Kepala Badan Otorita Danau Toba, Arie Prasetyo, Konsultan Proyek Pariwisata Tanjung Lesung KEK, Simon Lord, Kepala EU Desk-EIBN di BKPM Nurmala Martin, Kepala Divisi Investasi Kementerian Pariwisata Henky Manurung, serta Kepala Editor Oxford Business Group Oliver Cornock.*/f

Editor: Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga