Senin, 26 Juni 2017

Warga Tapin Banyak Terkena Gejala Hipertensi

id hepertensi, kabupaten tapin, penyakit hepertensi
Warga Tapin Banyak Terkena Gejala Hipertensi
(Antaranews Kalsel/net.)
Ya, sementara ini kebanyakan kami menerima pasien-pasien dengan gejala penyakit yang tidak terlalu berat, seperti hipertensi, dan lainnya tadi,
Rantau (Antaranews Kalsel) - Earga Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan diketahui banyak terkena gejala hipertensi, flu dan penyakit pada lambungnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Sumberdaya Kesehatan Dinas Kesehatan Tapin Renny Heslinda, di Rantau, Kamis, mengatakan dalam program pengobatan gratis yang dilakukan pada 12 kecamatan di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan banyak ditemukan warga yang mengidap gejala hipertensi.

Menurut Renny, selama dilaksanakan pelayanan kesehatan gratis Ramadan 1438 Hijriah di seluruh kecamatan di Tapin, kebanyakan warga yang berobat menderita hipertensi, flu, dan masalah pada lambung.

Dalam pengobatan gratis yang dilaksanakan di Desa Gunung Batu diikuti 100 peserta lebih, sebagian besar warga mengalami hipertensi dan masalah lambung.

Program pengobatan dan pemeriksaan gratis tersebut dilaksanakan untuk mengantisipasi agar masyarakat yang mengalami gejala penyakit tertentu bisa segera terdeteksi sedini mungkin, sehingga tidak menjadi lebih parah dan sulit diobati.

Namun, apabila ada warga yang memiliki gejala atau mengalami penyakit yang cukup berat dan perlu pengobatan lebih lanjut, tim akan merujuk pasein tersebut ke puskesmas atau ke rumah sakit untuk menerima perawatan dan pengobatan lebih lanjut.

"Ya, sementara ini kebanyakan kami menerima pasien-pasien dengan gejala penyakit yang tidak terlalu berat, seperti hipertensi, dan lainnya tadi," katanya pula.

Sejak beberapa pekan terakhir, Tim Penggerak PKK Kabupaten Tapin bekerja sama dengan Dinas Kesehatan keliling desa untuk melaksanakan program pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi warga yang rumahnya jauh dari layanan kesehatan.

Menurut Renny, program tersebut mendapatkan sambutan cukup antusias dari masyarakat, terbukti setiap dibuka layanan pengobatan gratis, warga desa yang kebanyakan transmigran tersebut berbondong-bondong untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Ketua TP PKK Tapin Hj Ratna Ellyani Arifin Arpan merasa bangga dan senang, karena banyak masyarakat berobat ke tempat yang disediakan pemerintah, artinya tingkat kesadaran warga akan pentingnya kesehatan cukup tinggi.

"Inilah yang kita harapkan, warga bisa memanfaatkan secara maksimal pelayanan yang sudah disediakan oleh pemerintah," kata Ratna.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek mengatakan hipertensi merupakan penyakit tertinggi yang menyerang masyarakat Indonesia.

Menurut Menkes, usai dialog tentang berbagai persolan program kesehatan dengan kepala daerah dan insan kesehatan Kalimantan Selatan di Banjarmasin, Rabu (14/6), untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah kabupaten dan kota harus mampu mengajak masyarakat untuk mengubah dengan pola hidup sehat.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hampir satu juta penduduk Indonesia kini memiliki berbagai penyakit, seperti jantung, stroke dan hipertensi.

Pengobatan penyakit tersebut telah menguras dana BPJS Kesehatan tidak kurang dari Rp6,9 triliun.

Berdasarkan situs Alodokter, hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi kronis tekanan darah pada dinding arteri (pembuluh darah bersih) meningkat.

Kondisi ini dikenal sebagai "pembunuh diam-diam" karena jarang memiliki gejala yang jelas. Satu-satunya cara mengetahui apakah memiliki hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah.

Jika masyarakat belum memeriksa dan tidak tahu tekanan darahnya, sebaiknya segara meminta dokter untuk memeriksanya.

Semua orang dewasa sebaiknya memeriksa tekanan darah mereka setidaknya setiap lima tahun sekali.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 menunjukkan bahwa penderita hipertensi yang berusia di atas 18 tahun mencapai 25,8 persen dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia.

Penderita hipretensi perempuan lebih banyak 6 persen dibanding laki-laki. Sedangkan yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan hanya mencapai sekitar 9,4 persen.

Artinya masih banyak penderita hipertensi yang tidak terjangkau dan terdiagnosa oleh tenaga kesehatan, dan tidak menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Hal tersebut menyebabkan hipertensi sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Editor: Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga