Kue Bingka Jadi Favorit

Pembuatan Kue Bingka Hj Kaitiah/Herry

Berita Terkait
Makanan khas tradisional berupa kue merupakan penganan yang paling diminati pengunjung Pasar Wadai di Kotabaru Kalimantan Selatan untuk berbuka puasa dibandingkan kue yang lainnya.

Seorang pedagang H. Sutrisno di Pasar Wadai Kotabaru, Minggu, mengaku, kue bingka adalah satu jenis kue tradisional yang paling diserbu pengunjung pasar pada Ramadhan 1432 Hijriah.

"Kue bingka dengan berbagai jenisnya, tumbuk, apam dan lemang sangat diminati konsumen," ujarnya.

Hampir semua stan yang menjual kue tradisional diserbu pengunjung sejak sore hari.

Ia mengaku bisa menjual puluhan porsi kue bingka berukuran besar.

Satu porsi kue bingka cukup untuk berbuka puasa 10 orang.

Sutrisno mengaku menjual kue bingka bervariasi, tergantung jenis dan ukuran, mulai dari Rp10.000 keatas.

Selain kue bingka, kue "tumbuk" juga jenis kue yang dicari masyarakat muslim di Kotabaru.

Kue tumbuk salah satu makanan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan air santan, di cetak dengan bambu sebelum di masak dan dibungkus daun pisang muda menjadi kue istimewa untuk berkuka puasa.

"Kue Tumbuk hanya muncul setiap bulan puasa hingga lebaran Idul Fitri saja, sehingga menjadi hidangan istimewa bagi masyarakat di sini," kata warga Kotabaru Syahruding pada suatu kesempatan.

Menurutnya, kue tumbuk sebenarnya bukanlah makanan khas masyarakat Kotabaru, melainkan jenis makanan khas Suku Mandar di Sulawesi Selatan.

Tetapi karena hampir 30 persen masyarakat Kotabaru berasal dari Sulawesi, sehingga makanan khas tersebut tidak dapat dilupakan bagi masyarakat Mandar di perantauan dan ternyata menu itu sesuai selera masyarakat di Kotabaru.

"Bagi masyarakat Mandar, kue tumbuk hanya diolah saat hari raya saja, selain membuatnya sangat sulit kue tersebut memiliki nilai sejarah yang tidak dapat dilupakan bagi mereka yang merantau meninggalkan kampung halamannya," ujarnya.

Husaini, warga Pulau Laut Utara, mengaku setiap diundang tetangganya selalu mengincar kue tumbuk dan mengabaikan kue yang lainnya.

"Setiap tahun kami hanya menunggu-nunggu hidangan kue tumbuk," kata Husaini.

Makanan ini tidak boleh ketinggalan untuk dihidangkan kepada tamu, kalau yang tidak ada itu nggak apa-apa tapi kalau ini jangan sampai tidak dihidangkan," tambahnya.

Kue tumbuk yang dibuat berbentuk bulat tebalnya sekitar dua centimeter dengan diameter tiga setengah centimeter, biasanya dihidangkan bersama sambal kacang, bumbu opor ayam/daging, atau dengan sambal hati ayam/sapi dan kambing.

Dalam satu piring biasanya hanya diberi satu sampai dua kue tumbuk dan di sisinya diberi aneka sambal sesuai selera yang akan menyantapnya.

Biasanya kue tumbuk dijual dengan harga bervariasi untuk ukuran kecil Rp1.000 per biji, tetapi untuk ukuran besar dengan tebal 10 cm lebar 6 cm dijual Rp15.000-Rp25.000 perbatang.(C/A)

Editor: Asmuni Kadri
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar