Senin, 25 September 2017

Pers Perubahan

id PERS, PWI, EMYE, MUCHLIS YUSUF
Pers Perubahan
Ahmad Mukhlis Yusuf (ANTARA.Doc)
Bagaikan pedang yang bermata dua. Demikian juga "pedang" pers. Hendak kemana diarahkan oleh para pelakunya? Kebaikan atau sebaliknya. Ada agenda setting media untuk membangun bangsa ini.
Hari Senin lalu, saya diundang berbagi pandangan tentang Pers dan Revolusi Mental pada acara Konvensi menjelang Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2016 di Mataram, NTB.


Kali ini, insan pers memperbincangkan topik itu di tengah tema besar tentang Maritim yang esoknya dihadiri Presiden Joko Widodo pada acara puncaknya.

Mengawali sesi itu saya mulai dengan bertutur kisah tentang Asep Fathurahman, fotografer LKBN ANTARA. Pada awal Januari 2012, Asep diundang Arief Kirdiat, seorang guide travel yang idealis.

Arief sering mengantar para turis ke pelosok-pelosok Banten dan menemukan fakta banyaknya jembatan dan jalan yang rusak parah di pedalaman-pedalaman Provinsi Banten. Padahal, kala itu Banten sudah 12 tahun menjadi Provinsi.

Bersama dua wartawan media lain, Asep diajak menelusuri pelosok Kabupaten Lebak. Bukan perjalanan nyaman.

Hasil jepreten Asep tentang anak-anak sekolah yang bergelayutan di atas jembatan rusak esoknya ditayangkan ANTARA ke seluruh pelanggan medianya. Tugas jurnalistik yang rutin.

Salah satu pelanggan ANTARA, Jakarta Post menayangkan foto jembatan itu. Biasa saja. Namun, ketika foto tersebut ditayangkan oleh the Sun di Inggris, lantas menggegerkan. Mulai saat itu, media lantas menyebutnya sebagai jembatan "Indiana Jones". Dunia heboh.

Bila Anda mengetik kata "Jembatan Indiana Jones", google akan merefer pada foto-foto jembatan rusak di Banten dan berbagai daerah lainnya di Indonesia yang digunakan oleh para siswa dan masyarakat setempat.

Bagi kami yang lahir di Banten, pengalaman itu sebenarnya biasa. Semasa bersekolah SD, saya sering melintasi rel kereta api yang sudah tak digunakan di Menes. Kami biasa juga melintasi jembatan kayu melintasi sungai untuk mencari jalan untuk sampai tujuan.

Kami juga biasa, naik truk atau bergelantungan di atas kendaraan umum menuju sekolah. Uji nyali bersama teman-teman. Demi ilmu, hidup penuh perjuangan kata guru-guru kami.

Zaman telah berubah. Harapan hidup layak, pendidiikan, media dan teknologi telah mengubah standar dan harapan hidup tentang pentingnya keselamatan transportasi. Tugas Negara menghadirkan layanan atas hak-hak mendasar rakyatnya.

Uji nyali menjadi pilihan, bukan lagi karena tiada pilihan.

Kembali kepada foto Asep. Setelah penyiaran berita foto itu, banyak pihak bertanya ke Jakarta Post dan ANTARA. Seorang Ibu mengontak Arief, hatinya terpanggil untuk mengulurkan tangan membantu pembangunan jembatan.

Arief pun mulai membuka rekening pribadinya untuk menerima donasi pembangunan jembatan bersama Relawan Kampung yang dipimpinnya. Dengan dukungan media sosial, Arief melakukan  penghimpunan dana.

Setelah dana mulai terkumpul, Arief mengajak temannya untuk jadi relawan untuk merancang pembangunan jembatan Cibeurang itu. Hasil dan kemajuan pembangunan diumumkan di media sosial, termasuk laporan penggunaan dana. Akuntabilitas sederhana.

Pembangunan jembatan oleh masyarakat ini terus menjadi gerakan besar. Budaya gotong royong telah jadi modal sosial kita, bah sebelum Republik ini berdiri.

Arief pun keliling Indonesia. Pers menyebutnya sebagai Pahlawan Jembatan.

Pemerintah pun mulai lebih memberikan perhatian. Kini, tersedia dana DIPA baik APBN maupun APBD pada berbagai Kota dan Kabupaten untuk menelusuri keberadaan jembatan-jembatan yang rusak. Terlebih lagi setelah musim hujan tiba.

Setelah empat tahun gerakan gotong royong jembatan berjalan, lebih dari 100 jembatan dibangun Arief Kirdiat dengan melibatkan para relawannya di seluruh Indonesia.

Kisah nyata ini sering saya sampaikan pada berbagai forum pers, baik di lingkungan internal ANTARA maupun di forum-forum lain.

Masih banyak kisah lain, misalnya wartawati ANTARA lain, Debi Mano, dari Gorontalo yang menyiarkan perjuangan seorang guru yang berjalan kaki rata-rata 20 km setiap hari untuk mengajar, namun tak mampu menyekolahkan anaknya ke SMA. Tulisan Debi telah mengetuk seorang dermawan membantu beasiswa bagi anaknya.

Seorang wartawati ANTARA lain, Wuri,  melaporan detil penderitaan korban longsor Wasior, Papua, yang beritanya telah menggerakan solidaritas warga lain dari kota lain melalui BAZNAS, ACT dan DD.

Sangat banyak, kisah-kisah menarik tentang peran pers dalam menggerakan perubahan.
Mengubah perilaku, dan bahkan bisa mengubah budaya kita.

Terobosan Bu Risma di Surabaya, Kang Sunyoto di Bojonegoro, Pak Azwar Anas di Banyuwangi, Pak Nurdin Abdullah di Bantaeng, Pak Yoyok di Batang misalnya menjadi inspirasi pelayanan publik yang lebih besar lantaran peran insan media juga.

Keteladanan Arief Kirdiat dengan Relawan Kampungnya, Tri Mumpuni dengan solusi listrik hydro di pedesaan, Gol A Gong dalam gerakan literasi, Kamir Brata dalam gerakan biopori, Sonson Garsoni dengan Posko Hijau Bandung yang mengubah sampah menjadi energi misalnya adalah beberapa contoh keteladanan dalam perbuatan yang menginspirasi, juga tak lepas dari dukungan media.

Gerakan perubahan para penyelenggara negara dalam pelayanan publik dan keteladanan masyarakat menguatkan keyakinan kita, bila api perubahan untuk kebaikan bisa lebih besar dibandingkan sebaliknya yang diakibatkan oleh praktik korupsi, korupsi dan nepotisme - musuh bersama kita.

Semuanya dimungkinkan oleh peran nyata para insan pers yang tanggal 9 Februari 2016 lalu punya hajatan tahunan di Mataram, NTB.

Bagaikan pedang yang bermata dua. Demikian juga "pedang" pers. Hendak kemana diarahkan oleh para pelakunya? Kebaikan atau sebaliknya. Ada agenda setting media untuk membangun bangsa ini.

Beberapa tahun lalu, sebuah media cetak besar pernah empat hari berturut-turut menyiarkan liputan khusus soal kelaparan di Yakohimo, Papua. Headlines berasal dari liputan investigasi penuh data dan ulasan. Hasil liputan kritis itu "memaksa" Presiden kala itu untuk melakukan Rapat Kabinet Terbatas untuk membahas kebijakan penanganannya.

Luar biasa. Pedang berayun untuk kebaikan.

Bila dulu, zaman Adam Malik, Adinegoro, Bung Karno, Bung Hatta, Natsir hingga Rosihan Anwar dikenal istilah Pers Perjuangan. Lantas, setelahnya dikenal Pers Pembangunan.

Kini, boleh jadi mulai dikenal istilah Pers Perubahan yang menegaskan kembali pers sebagai kekuatan keempat demokrasi. Hendak kemana "pedang" pers ini hendak diayunkan? Mengubah untuk kebaikan bangsa atau sebaliknya.

Para insan pers yang bisa menjawabnya. Para pembaca dan pemirsa merasakan semangat pers perubahan itu.

*) Executive Coach pada Strategic Actions. Dirut Perum LKBN ANTARA tahun 2007-2012

Editor: Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga